siRiusVieL
..it's a million little things to be great..
Friday, 30 December 2016
❤❤
Sudah sangat lama gak nulis blog lagi..
Terakhir di tahun 2011..😀😀
Dan 2012 saya menikah dengan seorang lelaki yang luar biasa dan sekarang saya sudah memiliki anak laki-laki yang sangat baik tampan pintar dan lucu.
Sekarang umurnya 3,5tahun dan itu sangat luar biasa bagi saya.
Dan di tahun 2015 saya kehilangan 2 orang papa sekaligus..papa saya pergi di bulan Juli dan papa mertua saya di bulan April.
Mereka pergi karena sakit tetapi saya harap mereka pergi dengan bahagia tidak merasakan sakit dan menerima Yesus.
Dan di tahun 2015 juga cinta datang, Tuhan berikan seorang anak untuk kakak saya, sangat tampan lucu dan menggemaskan.
Dan di tahun 2016 Tuhan berikan kesempatan untuk oma saya menyentuh umur 90tahun. Dan diumurnya yg ke 90 tahun Tuhan sudah berikan oma 4 orang cicit, 1 cicit perempuan dan 3 cicit laki".
Banyak cerita banyak masalah dan begitu luar biasa juga berkat Tuhan sampai hari ini.
Tidak ada yang berubah banyak dalam hidup saya selama ini, hanya menjadi seorang istri dan ibu yg baik bagi suami dan anak saya.
Saya juga memiliki pekerjaan yang sanggup saya jalani seiring sejalan dengan pekerjaan saya sebagai istri dan ibu.
Walaupun sebagian teman saya menganggap bahwa saya berubah, hanya klo butuh baru nyari , ya intinya ingin seperti pada saat saya masih single..cuma saya hanya bisa membuat mereka mengerti bahwa saya sekarang memiliki ketebatasan saya memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang belum mereka miliki sebelum saya melakukan segala hak saya.
Tapi saya bahagia masih dikelilingi oleh mereka yg mau mengerti dan memahami sayaa.
Saya berada jauh dari teman" saya, dan hanya berkomunikasi via wa atau telpon bila saya punya waktu luang.
Tetap bersyukur masih diberikan kesempatan untuk tetap bisa menjalaninya dengan baik.
Hari ini adalah akhir tahun 2016.
Dan sepanjang tahun ini begitu mengurasa hati dan pikiran saya tetapi saya berpikir positif saja, jalani saja yg terpenting.
Dengan ikhlas dan tanpa mengeluh tentang apapun terjadi. Dan tetap bersyukur bahwa semua hal itu baik dan bila tidak baik itu bukan sebuah akhir.
Ada banyak cinta dan kasih untuk kamu beri dan tunjukkan. Terima kasih Tuhan untuk berkatmu yang luar biasa dalam hidup saya, keluarga dan teman-teman saya.
Wednesday, 19 January 2011
Untold Goodbye
Untold Goodbye
Frank terbaring lemah di sebuah kamar VIP di rumah sakit dengan embel-embel "International" di depan namanya, pertanda reputasi yang diamini dunia luas. Seorang asisten perempuan, berjaga di sebelahnya sambil merajut. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat, hanya wanita berusia enam puluhan itu yang setia menemani Frank.
Tiga bulan yang lalu, semuanya bermula. Stella, wanita yang paling dicintainya, meninggalkannya. Wajar, Frank lupa tanggal peringatan setahun mereka resmi berpacaran. Bukan hanya itu, ketika Stella memasuki apartemen penthouse yang ditinggali Frank, yang ditemukannya adalah Frank sedang berdansa dengan Vee, mantan kekasihnya.
Lagu "Can't help falling in love" mengalun sendu, bersamaan dengan memuncaknya amarah Stella. Tanpa mengucap sepatah kata, cincin pertunangan mereka meluncur lepas dari jari manis tangan kanannya, dilempar ke karpet, hampir bersamaan dengan air mata yang menetes perlahan melalui pipinya.
Stella berbalik pergi dengan setengah berlari, Frank mengejar. Tepat di depan pintu, sebuah tamparan melayang, tepat ke pipi kirinya. Pintu dibanting. Frank hancur. Lebih sakit dari perih dan panasnya tamparan, kelebat ingatan gambar wajah Stella yang menangis jauh lebih menghancurkan hatinya.
"Aku tidak akan melukaimu". Kata-kata itu diucapkan ketika Stella mengangguk atas pertanyaan "would you marry me?" Enam bulan setelah mereka meresmikan hubungan. Kini kata-kata itu tidak lebih dari gumpalan kebohongan masa lalu bagi Stella.
Vee adalah instruktur dansa. Dan Frank hanya berlatih. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya ketika mengajak Stella berdansa keesokannya. Ya, mereka resmi jadian pukul 12 malam lebih tujuh menit, sesuatu yang tidak akan dilupakan Frank. Sayangnya, Stella berpikir berbeda. Dan Stella tidak pernah tahu. Dia tidak memberi Frank kesempatan untuk memberitahu.
Sejak hari itu, selama seminggu Frank berusaha menghubungi Stella. Selalu ditolak, selalu dihindari. Frank semakin larut. Dosis alkohol yang ditenggaknya semakin tidak terkontrol. Entah berapa kali ia ditemukan tertidur di tempat yang tidak sepantasnya.
Puncaknya tiga hari yang lalu. Dia ditemukan pingsan di kamar tidurnya. Dokter memvonisnya kanker hati. Alkohol memiliki harga yang mahal untuk dibayar. Sekarang tepat sudah tiga hari dia terbaring di rumah sakit. Koma. Hanya Mia, asistennya, yang menemani dengan sabar.
Tiba-tiba, setetes air mata meleleh dari pelupuk Frank. Jari-jarinya bergerak perlahan. "Stella..." Bisiknya lirih. Mia terhenyak. Digenggamnya tangan majikannya yang sudah dianggapnya anak sendiri. "Bu Mia..." "Sudah Frank... Jangan bicara dulu.." "Apa Stella datang?" Hening. "Tidak", jawab Mia tanpa maksud menyakiti, hanya menyatakan fakta.
Tidak lagi tampak gagahnya Frank, yang tersisa hanya kelemahan yang dibalut selimut yang terlihat begitu nyaman, dan diramaikan belasan selang yang nampak saling membelit. Terlebih, mendengar itu, tangisnya semakin pecah, seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah pusat perbelanjaan.
Dia memberi isyarat untuk mengambilkan telepon genggamnya. Mia menolak. Dia tahu, kondisi Frank tidak cukup kuat. Frank menatap tajam. Seolah berkata "Kata-kataku adalah perintah". Mia mengalah. Dia berbalik untuk mengambil telepon genggam majikannya. Ketika dia kembali menghadap Frank, tuannya itu telah mencabut selang di tangan kanannya, juga masker oksigen dari wajahnya.
Segera setelah berpindah tangan, kata "keluar" terdengar dari mulut Frank. Mia tahu, ini perintah, bukan permintaan. Bersamaan dengan pintu yang ditutup dengan hati-hati, nada sambung terdengar dari telepon. Tiga... Empat... Lima kali... Putus. Demikian terulang berkali-kali. Selama setengah jam. Setengah jam terpanjang dalam hidup Frank.
Sekali lagi dia menekan nomor orang yang sangat dicintainya itu. Kali ini, dengan perasaan ngeri. Dia tahu, ajal sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Hampir berbarengan dengan dering kesembilan, sebuah nada lain mencipta simfoni pilu. Nada melengking panjang dari life detector Frank. Sebuah garis lurus nampak di sana, begitu tegas. Setegas garis takdir yang menyatakan bahwa ia terlambat. Kata-kata perpisahannya tidak akan pernah terucap.
Untold Goodbye
by. Dwika Putra
Frank terbaring lemah di sebuah kamar VIP di rumah sakit dengan embel-embel "International" di depan namanya, pertanda reputasi yang diamini dunia luas. Seorang asisten perempuan, berjaga di sebelahnya sambil merajut. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat, hanya wanita berusia enam puluhan itu yang setia menemani Frank.
Tiga bulan yang lalu, semuanya bermula. Stella, wanita yang paling dicintainya, meninggalkannya. Wajar, Frank lupa tanggal peringatan setahun mereka resmi berpacaran. Bukan hanya itu, ketika Stella memasuki apartemen penthouse yang ditinggali Frank, yang ditemukannya adalah Frank sedang berdansa dengan Vee, mantan kekasihnya.
Lagu "Can't help falling in love" mengalun sendu, bersamaan dengan memuncaknya amarah Stella. Tanpa mengucap sepatah kata, cincin pertunangan mereka meluncur lepas dari jari manis tangan kanannya, dilempar ke karpet, hampir bersamaan dengan air mata yang menetes perlahan melalui pipinya.
Stella berbalik pergi dengan setengah berlari, Frank mengejar. Tepat di depan pintu, sebuah tamparan melayang, tepat ke pipi kirinya. Pintu dibanting. Frank hancur. Lebih sakit dari perih dan panasnya tamparan, kelebat ingatan gambar wajah Stella yang menangis jauh lebih menghancurkan hatinya.
"Aku tidak akan melukaimu". Kata-kata itu diucapkan ketika Stella mengangguk atas pertanyaan "would you marry me?" Enam bulan setelah mereka meresmikan hubungan. Kini kata-kata itu tidak lebih dari gumpalan kebohongan masa lalu bagi Stella.
Vee adalah instruktur dansa. Dan Frank hanya berlatih. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya ketika mengajak Stella berdansa keesokannya. Ya, mereka resmi jadian pukul 12 malam lebih tujuh menit, sesuatu yang tidak akan dilupakan Frank. Sayangnya, Stella berpikir berbeda. Dan Stella tidak pernah tahu. Dia tidak memberi Frank kesempatan untuk memberitahu.
Sejak hari itu, selama seminggu Frank berusaha menghubungi Stella. Selalu ditolak, selalu dihindari. Frank semakin larut. Dosis alkohol yang ditenggaknya semakin tidak terkontrol. Entah berapa kali ia ditemukan tertidur di tempat yang tidak sepantasnya.
Puncaknya tiga hari yang lalu. Dia ditemukan pingsan di kamar tidurnya. Dokter memvonisnya kanker hati. Alkohol memiliki harga yang mahal untuk dibayar. Sekarang tepat sudah tiga hari dia terbaring di rumah sakit. Koma. Hanya Mia, asistennya, yang menemani dengan sabar.
Tiba-tiba, setetes air mata meleleh dari pelupuk Frank. Jari-jarinya bergerak perlahan. "Stella..." Bisiknya lirih. Mia terhenyak. Digenggamnya tangan majikannya yang sudah dianggapnya anak sendiri. "Bu Mia..." "Sudah Frank... Jangan bicara dulu.." "Apa Stella datang?" Hening. "Tidak", jawab Mia tanpa maksud menyakiti, hanya menyatakan fakta.
Tidak lagi tampak gagahnya Frank, yang tersisa hanya kelemahan yang dibalut selimut yang terlihat begitu nyaman, dan diramaikan belasan selang yang nampak saling membelit. Terlebih, mendengar itu, tangisnya semakin pecah, seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah pusat perbelanjaan.
Dia memberi isyarat untuk mengambilkan telepon genggamnya. Mia menolak. Dia tahu, kondisi Frank tidak cukup kuat. Frank menatap tajam. Seolah berkata "Kata-kataku adalah perintah". Mia mengalah. Dia berbalik untuk mengambil telepon genggam majikannya. Ketika dia kembali menghadap Frank, tuannya itu telah mencabut selang di tangan kanannya, juga masker oksigen dari wajahnya.
Segera setelah berpindah tangan, kata "keluar" terdengar dari mulut Frank. Mia tahu, ini perintah, bukan permintaan. Bersamaan dengan pintu yang ditutup dengan hati-hati, nada sambung terdengar dari telepon. Tiga... Empat... Lima kali... Putus. Demikian terulang berkali-kali. Selama setengah jam. Setengah jam terpanjang dalam hidup Frank.
Sekali lagi dia menekan nomor orang yang sangat dicintainya itu. Kali ini, dengan perasaan ngeri. Dia tahu, ajal sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Hampir berbarengan dengan dering kesembilan, sebuah nada lain mencipta simfoni pilu. Nada melengking panjang dari life detector Frank. Sebuah garis lurus nampak di sana, begitu tegas. Setegas garis takdir yang menyatakan bahwa ia terlambat. Kata-kata perpisahannya tidak akan pernah terucap.
Untold Goodbye
by. Dwika Putra
Sunday, 16 January 2011
Made My Day
Jakarta. 9 Februari. 2009.
Bandara Soekarno Hatta.
Jam 12 siang.
Aku tak pernah suka suasana bandara. Terlalu banyak perpisahan yang terjadi di sini. Terlalu banyak drama. Derai air mata, kepalsuan tawa, senyum yang dipaksakan. Semuanya. Aku? Sendiri, tentu saja. Kebosananku tinggal di negeri ini, membawaku pada keputusan menjual piano peninggalan keluargaku. Keluargaku memang keluarga musisi. Musisi miskin, tepatnya.
Hasil penjualan piano, kubelikan selembar tiket satu arah ke Australia. Melbourne. Kota yang kupilih. Entah mengapa, hanya terdengar indah di telinga. Musikku tidak bergaung cukup keras di negara ini. Makanya aku mencoba peruntunganku. Kudengar, Melbourne kota yang cukup bersahabat. Di pesawat, hanya satu playlist yang kudengar berulang-ulang dengan iPod tuaku, empat lagu dari Chrisye, sang maestro yang juga idolaku sedari kecil.
Melbourne, 9 Februari 2009
Avalon International Airport
11.30 waktu setempat
Angin sialan. 40 menit berputar2 karena tidak kondusifnya angin. Ah sudahlah. Ada masalah yang lebih besar. Aku tidur di mana? Bawaanku hanya dua. Satu tas gitar, berisi gitar pertamaku, dan satu tas jinjing, hanya berisi empat helai baju dan dua celana panjang.oh, dan charger ipod ku. Aku menengok pengukur suhu yang ada di dinding salah satu kafe. Sembilan derajat. Sial. Pantas aku menggigil. Trench coat ini jelas kurang untuk menahan dingin.
12.10
Aku mulai panik. Berbeda dengan Jakarta, jalan-jalan sudah mulai sepi. Bingung mencari tempat tidur, ditambah hidung yang tak berhenti meradang, sempat membuatku putus asa. Akhirnya aku memutuskan tidur di jalan. Aku mencari emperan yang beratap, jaga-jaga bila saja malam hujan. "Alisha Café". Persetan dengan namanya. Kanopinya cukup luas. Cukup bagiku. Aku terlelap setelah menumpuk semua bajuku agar hangat. Belum ada sepuluh menit, aku terbangun dengan tepukan di bahuku. Sialan, batinku. Kukenakan kembali kacamataku. Seorang wanita.
Cantik. Itu saja yang terpikir. Kecantikan kaukasian yang sempurna. Mata coklat. Kulit putih, tetapi tidak berlebihan seperti orang eropa. Rambut sebahu diikat kuncir kuda. "Are you okay?" Katanya. "Helloo??" Katanya lagi sambil mengibaskan tangan di depan mataku, karena aku terpaku tak menjawab. "No...." Jawabku. "Eh? What's wrong?" Dia terlihat panik. "I think I'm dead, otherwise I can't meet an angel like you", jawabku, dengan niat menggoda, tentu saja. Dia tertawa kecil, luar biasa manisnya. Dengan tetap tersenyum, dia mengulurkan tangan, "Alisha". Kujabat tangannya, lembut sekali, "Dean".
Mungkin berlandas rasa iba padaku, diajaknya aku ke dalam kafe yang ternyata miliknya. Disuguhkan secangkir kopi. Hangat. Rasanya seperti surga. "I'm sorry, sir, but would you mind leaving after that coffee? I have to go home", ucapnya, dengan wajah memohon maaf yang tetap memancarkan kesempurnaan. "Nevermind, do you know where I can stay for the night?" Kataku dengan wajah datar. Aku tak mau terlihat mengiba. "Yeah, go to that corner, there's seafarers center, intersection of Spencer and Little Lonesdale, you can stay there for free, they accept homeless men", katanya sambil menunjuk ke salah satu arah.
Aku meneguk kopiku, mengangkat bawaanku, dan melangkah ke pintu keluar. Tepat di pintu, aku berbalik, "can I return here tomorrow?" Dia mengangkat alisnya. "At least to pay my cup of coffee", sambungku, "please?" sambil menirukan gaya memohon. Dia tertawa, "sure". Aku yakin aku akan mimpi indah malam ini.
Keesokannya, kutukarkan uang rupiahku dengan dolar Australia. Empat ratus sebelas dolar. Tidak mungkin aku bisa mendapat tempat tinggal yang layak dengan uang ini. Ah sudahlah, sekarang, bayar hutang dulu. Aku melangkah dengan santai, menuju toko barang bekas. Kujual tas jinjingku, sepuluh dolar. Toh tak ada gunanya. Aku selalu mengenakan tiga helai baju dan satu celana. Satu baju dan celanaku, bisa kuletakkan di tas gitarku. Cukup. Aku melangkah ke kafe Alisha. "A cup of coffee", kataku padanya, "and here's for yesterday as well". Aku memilih tempat duduk dekat jendela. Dia mengantarkan kopi itu kepadaku, satu-satunya tamu, dan duduk di depanku.
"Want to work?" Tanyanya. Aku tercengang, "of course". "Haha, I hope you're good with your guitar. Would you mind busking (mengamen) outside my cafe? So people will hopefully come, I'll let you stay here in return. But I have to hear you sing first", celotehnya santai. "Sure!" Untunglah, jalan selalu ada. Aku mulai menyanyi untuknya. Sebuah tembang "Falling slowly" kunyanyikan, dan diakhiri dengan tepuk tangan. "You passed!" Katanya, dan aku mulai mengamen di sana.
4 Juni 2009.
Alisha Café
10.00.
Hari ini, dua hari sebelum visaku berakhir. Aku tidak bisa memperpanjangnya. Uangku hanya cukup untuk tiket pulang. Aku begitu geram. Aku belum sukses di sini. Begitupun kisah cintaku. Aku mulai dekat dengan Alisha. Apakah harus kuakhiri? Apa boleh buat. Aku tak mau membuat keluargaku semakin cemas. Kuputuskan, aku akan berhenti mendatangi Alisha. Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku memandangi langit-langit seafarers center. Aku terkesiap, aku menuju meja resepsionis, aku menulis.
6 Juni 2009.
Alisha Café
04.00
Belum buka. Tentu saja. Kuselipkan sebuah amplop. Sebuah CD, dan secarik surat. Penuh kata maaf. Dan betapa aku memendam rasa. CD hanya berisi satu lagu. Dengan tulisan tanganku yang menggunakan spidol. "Made my day". Itu judul lagu yang menyatakan perasaanku padanya. Sekejap, semua kenangan di sana berkelebat. Senyumnya, tepuk tangan tulus dari para pendengarku, dan kopi hangatnya. Aku tersenyum, dan berangkat ke bandara.
13 Juni 2009.
Rumahku.
16.00
"Pos!!" Teriak pak pos dari luar. Sebuah surat, amplop merah hati. "Dear Dean", begitu tulisan di amplopnya. Kertasnya begitu lapang. Hanya terisi beberapa kata. "I love you, too. You also made my day". Aku tersenyum, terlebih setelah melihat tulisan di bagian bawahnya. "P.s. : Tanggal 16 ini, aku pulang ke Jakarta, jemput aku jam 4 di bandara ya. Alicia Asmadibrata :p"
Well, you just made my day :)
Made My Day sebuah karya cerita pendek dari Dwika Putra
Bandara Soekarno Hatta.
Jam 12 siang.
Aku tak pernah suka suasana bandara. Terlalu banyak perpisahan yang terjadi di sini. Terlalu banyak drama. Derai air mata, kepalsuan tawa, senyum yang dipaksakan. Semuanya. Aku? Sendiri, tentu saja. Kebosananku tinggal di negeri ini, membawaku pada keputusan menjual piano peninggalan keluargaku. Keluargaku memang keluarga musisi. Musisi miskin, tepatnya.
Hasil penjualan piano, kubelikan selembar tiket satu arah ke Australia. Melbourne. Kota yang kupilih. Entah mengapa, hanya terdengar indah di telinga. Musikku tidak bergaung cukup keras di negara ini. Makanya aku mencoba peruntunganku. Kudengar, Melbourne kota yang cukup bersahabat. Di pesawat, hanya satu playlist yang kudengar berulang-ulang dengan iPod tuaku, empat lagu dari Chrisye, sang maestro yang juga idolaku sedari kecil.
Melbourne, 9 Februari 2009
Avalon International Airport
11.30 waktu setempat
Angin sialan. 40 menit berputar2 karena tidak kondusifnya angin. Ah sudahlah. Ada masalah yang lebih besar. Aku tidur di mana? Bawaanku hanya dua. Satu tas gitar, berisi gitar pertamaku, dan satu tas jinjing, hanya berisi empat helai baju dan dua celana panjang.oh, dan charger ipod ku. Aku menengok pengukur suhu yang ada di dinding salah satu kafe. Sembilan derajat. Sial. Pantas aku menggigil. Trench coat ini jelas kurang untuk menahan dingin.
12.10
Aku mulai panik. Berbeda dengan Jakarta, jalan-jalan sudah mulai sepi. Bingung mencari tempat tidur, ditambah hidung yang tak berhenti meradang, sempat membuatku putus asa. Akhirnya aku memutuskan tidur di jalan. Aku mencari emperan yang beratap, jaga-jaga bila saja malam hujan. "Alisha Café". Persetan dengan namanya. Kanopinya cukup luas. Cukup bagiku. Aku terlelap setelah menumpuk semua bajuku agar hangat. Belum ada sepuluh menit, aku terbangun dengan tepukan di bahuku. Sialan, batinku. Kukenakan kembali kacamataku. Seorang wanita.
Cantik. Itu saja yang terpikir. Kecantikan kaukasian yang sempurna. Mata coklat. Kulit putih, tetapi tidak berlebihan seperti orang eropa. Rambut sebahu diikat kuncir kuda. "Are you okay?" Katanya. "Helloo??" Katanya lagi sambil mengibaskan tangan di depan mataku, karena aku terpaku tak menjawab. "No...." Jawabku. "Eh? What's wrong?" Dia terlihat panik. "I think I'm dead, otherwise I can't meet an angel like you", jawabku, dengan niat menggoda, tentu saja. Dia tertawa kecil, luar biasa manisnya. Dengan tetap tersenyum, dia mengulurkan tangan, "Alisha". Kujabat tangannya, lembut sekali, "Dean".
Mungkin berlandas rasa iba padaku, diajaknya aku ke dalam kafe yang ternyata miliknya. Disuguhkan secangkir kopi. Hangat. Rasanya seperti surga. "I'm sorry, sir, but would you mind leaving after that coffee? I have to go home", ucapnya, dengan wajah memohon maaf yang tetap memancarkan kesempurnaan. "Nevermind, do you know where I can stay for the night?" Kataku dengan wajah datar. Aku tak mau terlihat mengiba. "Yeah, go to that corner, there's seafarers center, intersection of Spencer and Little Lonesdale, you can stay there for free, they accept homeless men", katanya sambil menunjuk ke salah satu arah.
Aku meneguk kopiku, mengangkat bawaanku, dan melangkah ke pintu keluar. Tepat di pintu, aku berbalik, "can I return here tomorrow?" Dia mengangkat alisnya. "At least to pay my cup of coffee", sambungku, "please?" sambil menirukan gaya memohon. Dia tertawa, "sure". Aku yakin aku akan mimpi indah malam ini.
Keesokannya, kutukarkan uang rupiahku dengan dolar Australia. Empat ratus sebelas dolar. Tidak mungkin aku bisa mendapat tempat tinggal yang layak dengan uang ini. Ah sudahlah, sekarang, bayar hutang dulu. Aku melangkah dengan santai, menuju toko barang bekas. Kujual tas jinjingku, sepuluh dolar. Toh tak ada gunanya. Aku selalu mengenakan tiga helai baju dan satu celana. Satu baju dan celanaku, bisa kuletakkan di tas gitarku. Cukup. Aku melangkah ke kafe Alisha. "A cup of coffee", kataku padanya, "and here's for yesterday as well". Aku memilih tempat duduk dekat jendela. Dia mengantarkan kopi itu kepadaku, satu-satunya tamu, dan duduk di depanku.
"Want to work?" Tanyanya. Aku tercengang, "of course". "Haha, I hope you're good with your guitar. Would you mind busking (mengamen) outside my cafe? So people will hopefully come, I'll let you stay here in return. But I have to hear you sing first", celotehnya santai. "Sure!" Untunglah, jalan selalu ada. Aku mulai menyanyi untuknya. Sebuah tembang "Falling slowly" kunyanyikan, dan diakhiri dengan tepuk tangan. "You passed!" Katanya, dan aku mulai mengamen di sana.
4 Juni 2009.
Alisha Café
10.00.
Hari ini, dua hari sebelum visaku berakhir. Aku tidak bisa memperpanjangnya. Uangku hanya cukup untuk tiket pulang. Aku begitu geram. Aku belum sukses di sini. Begitupun kisah cintaku. Aku mulai dekat dengan Alisha. Apakah harus kuakhiri? Apa boleh buat. Aku tak mau membuat keluargaku semakin cemas. Kuputuskan, aku akan berhenti mendatangi Alisha. Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku memandangi langit-langit seafarers center. Aku terkesiap, aku menuju meja resepsionis, aku menulis.
6 Juni 2009.
Alisha Café
04.00
Belum buka. Tentu saja. Kuselipkan sebuah amplop. Sebuah CD, dan secarik surat. Penuh kata maaf. Dan betapa aku memendam rasa. CD hanya berisi satu lagu. Dengan tulisan tanganku yang menggunakan spidol. "Made my day". Itu judul lagu yang menyatakan perasaanku padanya. Sekejap, semua kenangan di sana berkelebat. Senyumnya, tepuk tangan tulus dari para pendengarku, dan kopi hangatnya. Aku tersenyum, dan berangkat ke bandara.
13 Juni 2009.
Rumahku.
16.00
"Pos!!" Teriak pak pos dari luar. Sebuah surat, amplop merah hati. "Dear Dean", begitu tulisan di amplopnya. Kertasnya begitu lapang. Hanya terisi beberapa kata. "I love you, too. You also made my day". Aku tersenyum, terlebih setelah melihat tulisan di bagian bawahnya. "P.s. : Tanggal 16 ini, aku pulang ke Jakarta, jemput aku jam 4 di bandara ya. Alicia Asmadibrata :p"
Well, you just made my day :)
Made My Day sebuah karya cerita pendek dari Dwika Putra
Monday, 15 November 2010
Think Wisely
You have the ability, through your thoughts and your efforts, to create something that has never existed before. And you have the power to choose what that will be.
It is at once a magnificent opportunity and an awesome responsibility. Your thoughts are ultimately chosen by you. Your actions, and their results, will be determined by the things you think about and the things to which you pay attention.
All achievements begin in the mind, and there is no limit to what the mind can think. Everything that anyone has ever invented, built, written, performed, produced or otherwise created, began to take shape first as a conscious thought.
Put your highest and best thoughts into disciplined action over a long enough period of time, and you'll create a masterpiece.
What you think about, is what you will do. And what you think about, is up to you.
- unknown -
It is at once a magnificent opportunity and an awesome responsibility. Your thoughts are ultimately chosen by you. Your actions, and their results, will be determined by the things you think about and the things to which you pay attention.
All achievements begin in the mind, and there is no limit to what the mind can think. Everything that anyone has ever invented, built, written, performed, produced or otherwise created, began to take shape first as a conscious thought.
Put your highest and best thoughts into disciplined action over a long enough period of time, and you'll create a masterpiece.
What you think about, is what you will do. And what you think about, is up to you.
- unknown -
Sunday, 17 October 2010
Is Coffee Good or Bad For You?
Some people say,” I don’t like coffee, it’s just some kinda brown creamy liquid which tastes bitter and keeps you awake..” or, “It will ruin my sleeping habits, teeth and probably mess with my metabolism!!”

But if you ask me..Do you like coffee? I do, it's taste and aroma make my mornings so much better! I'm sure coffee is not as bad as other things.. Oh GOD, I LOOOOVE coffee and I can't start a day without coffee..hahahaha8.. I drink black coffee, no sugar or with creamer...but it's just about what you get used to..
It’s the same as with beer /wine or others– you have to learn to truly love it.. First it tastes awful, but it gets better and better, and believe me..hahaha8..
Is Coffee Good or Bad For You?

But if you ask me..Do you like coffee? I do, it's taste and aroma make my mornings so much better! I'm sure coffee is not as bad as other things.. Oh GOD, I LOOOOVE coffee and I can't start a day without coffee..hahahaha8.. I drink black coffee, no sugar or with creamer...but it's just about what you get used to..
It’s the same as with beer /wine or others– you have to learn to truly love it.. First it tastes awful, but it gets better and better, and believe me..hahaha8..
Is Coffee Good or Bad For You?
Saturday, 11 September 2010
..Learn..

* Belajarlah untuk diam daripada banyak bicara.
* Belajarlah untuk sabar daripada marah.
* Belajarlah untuk mengalah dari suatu keegoisan.
* Belajarlah untuk tetap tegar dari setiap kehilangan.
* Belajarlah untuk selalu bersyukur dari setiap kebahagian.
* Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki sesuatu yang terbaik dalam hidupnya, tetapi hanya selalu berusaha untuk menjadikan setiap apapun yang hadir dalam hidupnya menjadi yang terbaik.
* Kasihmu di bentuk bukan saat kau ada di tempat dimana kau menjadi pusat perhatian, tetapi di tempat dimana ada penolakan.
* Pengaharapanmu di bentuk bukan saat kau berada dalam suatu kepastian, tetapi saat kau berada dalam keraguan.
* Imanmu di bentuk bukan saat kau berada dalam kenyamanan, tetapi saat kau berada dalam penderitaan.
Wednesday, 1 September 2010
INDONESIA AND MALAYSIA

Indonesia's 65th Independence Day and Malaysia's 53rd Independence Day!!!
I find this war between Malaysia and Indonesia not only childish but stupid. Let's face it, both sides are at fault. Personally, I think that Malaysians should learn to treat other nationals as equals while the Indonesian government should do more to protect its citizens.
I wonder when Indonesia can stop acting with their heart and start using their god-given brains. If inferiority is also one of the issues, then that is Indonesia's own problem, Malaysians are no smarter than Indonesians, just more developed hence civilized. Everything can be settled in a more diplomatic and civilized manner regardless what problem arises.
• The lawmakers and legislators of Indonesia are not doing any better but continuously making statements that further incite all this hatred against Malaysia. Freedom of expression/speech is commendable but everything must have a border, which is no wonder why third world countries like us still can't have open debates or peaceful demonstrations minus the aggressiveness and emotions like the westerners.
• The mass media in Indonesia is grossly irresponsible and rubbish!!just for cheap publication or anything that simply sells!! Wouldn't it be better to sensibly educate the nation rather than bask in the enjoyment of seeing the people behave in such a way that reflects your country? Gives a poor impression of the Indonesian public.
INDONESIA..
Ecologically blessed, economically challenged, vast and diverse, Indonesia is a country of contrasts. made up of 17,500 islands (only about 6,000 of those inhabited)..Indonesia is populated by over 230 million people, speaking over 740 different languages and dialects within 300 distinct native ethnic groups - it is the fourth most populous country, after the United States..
Beautiful country, but the governments make this like shit!!!!blame your country!!!
I need a good leader that can work for the good of the people and not for the sake of their political parties..I need a professional and clean government, whose public servants really work for the sake of the people, not for the interests of individuals..I want all Indonesian children to receive a good education as they are needed for the survival of this country..The people of Indonesia ready to understand what a true democracy is..I hope the future looks much better..I really wish that Indonesia can start grooming its people to be better in every aspect of life..be a better country for everyone..we are going to be fine as a nation..
And Indonesia’s Government..Please, save your people first not your ego!And Malaysia, I hope my country and your country will be able to go hand in hand someday..:)
Subscribe to:
Posts (Atom)