Wednesday, 19 January 2011

Untold Goodbye

Untold Goodbye

Frank terbaring lemah di sebuah kamar VIP di rumah sakit dengan embel-embel "International" di depan namanya, pertanda reputasi yang diamini dunia luas. Seorang asisten perempuan, berjaga di sebelahnya sambil merajut. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat, hanya wanita berusia enam puluhan itu yang setia menemani Frank.



Tiga bulan yang lalu, semuanya bermula. Stella, wanita yang paling dicintainya, meninggalkannya. Wajar, Frank lupa tanggal peringatan setahun mereka resmi berpacaran. Bukan hanya itu, ketika Stella memasuki apartemen penthouse yang ditinggali Frank, yang ditemukannya adalah Frank sedang berdansa dengan Vee, mantan kekasihnya.



Lagu "Can't help falling in love" mengalun sendu, bersamaan dengan memuncaknya amarah Stella. Tanpa mengucap sepatah kata, cincin pertunangan mereka meluncur lepas dari jari manis tangan kanannya, dilempar ke karpet, hampir bersamaan dengan air mata yang menetes perlahan melalui pipinya.



Stella berbalik pergi dengan setengah berlari, Frank mengejar. Tepat di depan pintu, sebuah tamparan melayang, tepat ke pipi kirinya. Pintu dibanting. Frank hancur. Lebih sakit dari perih dan panasnya tamparan, kelebat ingatan gambar wajah Stella yang menangis jauh lebih menghancurkan hatinya.



"Aku tidak akan melukaimu". Kata-kata itu diucapkan ketika Stella mengangguk atas pertanyaan "would you marry me?" Enam bulan setelah mereka meresmikan hubungan. Kini kata-kata itu tidak lebih dari gumpalan kebohongan masa lalu bagi Stella.



Vee adalah instruktur dansa. Dan Frank hanya berlatih. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya ketika mengajak Stella berdansa keesokannya. Ya, mereka resmi jadian pukul 12 malam lebih tujuh menit, sesuatu yang tidak akan dilupakan Frank. Sayangnya, Stella berpikir berbeda. Dan Stella tidak pernah tahu. Dia tidak memberi Frank kesempatan untuk memberitahu.



Sejak hari itu, selama seminggu Frank berusaha menghubungi Stella. Selalu ditolak, selalu dihindari. Frank semakin larut. Dosis alkohol yang ditenggaknya semakin tidak terkontrol. Entah berapa kali ia ditemukan tertidur di tempat yang tidak sepantasnya.



Puncaknya tiga hari yang lalu. Dia ditemukan pingsan di kamar tidurnya. Dokter memvonisnya kanker hati. Alkohol memiliki harga yang mahal untuk dibayar. Sekarang tepat sudah tiga hari dia terbaring di rumah sakit. Koma. Hanya Mia, asistennya, yang menemani dengan sabar.



Tiba-tiba, setetes air mata meleleh dari pelupuk Frank. Jari-jarinya bergerak perlahan. "Stella..." Bisiknya lirih. Mia terhenyak. Digenggamnya tangan majikannya yang sudah dianggapnya anak sendiri. "Bu Mia..." "Sudah Frank... Jangan bicara dulu.." "Apa Stella datang?" Hening. "Tidak", jawab Mia tanpa maksud menyakiti, hanya menyatakan fakta.



Tidak lagi tampak gagahnya Frank, yang tersisa hanya kelemahan yang dibalut selimut yang terlihat begitu nyaman, dan diramaikan belasan selang yang nampak saling membelit. Terlebih, mendengar itu, tangisnya semakin pecah, seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah pusat perbelanjaan.



Dia memberi isyarat untuk mengambilkan telepon genggamnya. Mia menolak. Dia tahu, kondisi Frank tidak cukup kuat. Frank menatap tajam. Seolah berkata "Kata-kataku adalah perintah". Mia mengalah. Dia berbalik untuk mengambil telepon genggam majikannya. Ketika dia kembali menghadap Frank, tuannya itu telah mencabut selang di tangan kanannya, juga masker oksigen dari wajahnya.



Segera setelah berpindah tangan, kata "keluar" terdengar dari mulut Frank. Mia tahu, ini perintah, bukan permintaan. Bersamaan dengan pintu yang ditutup dengan hati-hati, nada sambung terdengar dari telepon. Tiga... Empat... Lima kali... Putus. Demikian terulang berkali-kali. Selama setengah jam. Setengah jam terpanjang dalam hidup Frank.



Sekali lagi dia menekan nomor orang yang sangat dicintainya itu. Kali ini, dengan perasaan ngeri. Dia tahu, ajal sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Hampir berbarengan dengan dering kesembilan, sebuah nada lain mencipta simfoni pilu. Nada melengking panjang dari life detector Frank. Sebuah garis lurus nampak di sana, begitu tegas. Setegas garis takdir yang menyatakan bahwa ia terlambat. Kata-kata perpisahannya tidak akan pernah terucap.



Untold Goodbye

by. Dwika Putra

Sunday, 16 January 2011

Made My Day

Jakarta. 9 Februari. 2009.
Bandara Soekarno Hatta.
Jam 12 siang.

Aku tak pernah suka suasana bandara. Terlalu banyak perpisahan yang terjadi di sini. Terlalu banyak drama. Derai air mata, kepalsuan tawa, senyum yang dipaksakan. Semuanya. Aku? Sendiri, tentu saja. Kebosananku tinggal di negeri ini, membawaku pada keputusan menjual piano peninggalan keluargaku. Keluargaku memang keluarga musisi. Musisi miskin, tepatnya.

Hasil penjualan piano, kubelikan selembar tiket satu arah ke Australia. Melbourne. Kota yang kupilih. Entah mengapa, hanya terdengar indah di telinga. Musikku tidak bergaung cukup keras di negara ini. Makanya aku mencoba peruntunganku. Kudengar, Melbourne kota yang cukup bersahabat. Di pesawat, hanya satu playlist yang kudengar berulang-ulang dengan iPod tuaku, empat lagu dari Chrisye, sang maestro yang juga idolaku sedari kecil.

Melbourne, 9 Februari 2009
Avalon International Airport
11.30 waktu setempat

Angin sialan. 40 menit berputar2 karena tidak kondusifnya angin. Ah sudahlah. Ada masalah yang lebih besar. Aku tidur di mana? Bawaanku hanya dua. Satu tas gitar, berisi gitar pertamaku, dan satu tas jinjing, hanya berisi empat helai baju dan dua celana panjang.oh, dan charger ipod ku. Aku menengok pengukur suhu yang ada di dinding salah satu kafe. Sembilan derajat. Sial. Pantas aku menggigil. Trench coat ini jelas kurang untuk menahan dingin.

12.10
Aku mulai panik. Berbeda dengan Jakarta, jalan-jalan sudah mulai sepi. Bingung mencari tempat tidur, ditambah hidung yang tak berhenti meradang, sempat membuatku putus asa. Akhirnya aku memutuskan tidur di jalan. Aku mencari emperan yang beratap, jaga-jaga bila saja malam hujan. "Alisha Café". Persetan dengan namanya. Kanopinya cukup luas. Cukup bagiku. Aku terlelap setelah menumpuk semua bajuku agar hangat. Belum ada sepuluh menit, aku terbangun dengan tepukan di bahuku. Sialan, batinku. Kukenakan kembali kacamataku. Seorang wanita.

Cantik. Itu saja yang terpikir. Kecantikan kaukasian yang sempurna. Mata coklat. Kulit putih, tetapi tidak berlebihan seperti orang eropa. Rambut sebahu diikat kuncir kuda. "Are you okay?" Katanya. "Helloo??" Katanya lagi sambil mengibaskan tangan di depan mataku, karena aku terpaku tak menjawab. "No...." Jawabku. "Eh? What's wrong?" Dia terlihat panik. "I think I'm dead, otherwise I can't meet an angel like you", jawabku, dengan niat menggoda, tentu saja. Dia tertawa kecil, luar biasa manisnya. Dengan tetap tersenyum, dia mengulurkan tangan, "Alisha". Kujabat tangannya, lembut sekali, "Dean".

Mungkin berlandas rasa iba padaku, diajaknya aku ke dalam kafe yang ternyata miliknya. Disuguhkan secangkir kopi. Hangat. Rasanya seperti surga. "I'm sorry, sir, but would you mind leaving after that coffee? I have to go home", ucapnya, dengan wajah memohon maaf yang tetap memancarkan kesempurnaan. "Nevermind, do you know where I can stay for the night?" Kataku dengan wajah datar. Aku tak mau terlihat mengiba. "Yeah, go to that corner, there's seafarers center, intersection of Spencer and Little Lonesdale, you can stay there for free, they accept homeless men", katanya sambil menunjuk ke salah satu arah.

Aku meneguk kopiku, mengangkat bawaanku, dan melangkah ke pintu keluar. Tepat di pintu, aku berbalik, "can I return here tomorrow?" Dia mengangkat alisnya. "At least to pay my cup of coffee", sambungku, "please?" sambil menirukan gaya memohon. Dia tertawa, "sure". Aku yakin aku akan mimpi indah malam ini.

Keesokannya, kutukarkan uang rupiahku dengan dolar Australia. Empat ratus sebelas dolar. Tidak mungkin aku bisa mendapat tempat tinggal yang layak dengan uang ini. Ah sudahlah, sekarang, bayar hutang dulu. Aku melangkah dengan santai, menuju toko barang bekas. Kujual tas jinjingku, sepuluh dolar. Toh tak ada gunanya. Aku selalu mengenakan tiga helai baju dan satu celana. Satu baju dan celanaku, bisa kuletakkan di tas gitarku. Cukup. Aku melangkah ke kafe Alisha. "A cup of coffee", kataku padanya, "and here's for yesterday as well". Aku memilih tempat duduk dekat jendela. Dia mengantarkan kopi itu kepadaku, satu-satunya tamu, dan duduk di depanku.

"Want to work?" Tanyanya. Aku tercengang, "of course". "Haha, I hope you're good with your guitar. Would you mind busking (mengamen) outside my cafe? So people will hopefully come, I'll let you stay here in return. But I have to hear you sing first", celotehnya santai. "Sure!" Untunglah, jalan selalu ada. Aku mulai menyanyi untuknya. Sebuah tembang "Falling slowly" kunyanyikan, dan diakhiri dengan tepuk tangan. "You passed!" Katanya, dan aku mulai mengamen di sana.

4 Juni 2009.
Alisha Café
10.00.
Hari ini, dua hari sebelum visaku berakhir. Aku tidak bisa memperpanjangnya. Uangku hanya cukup untuk tiket pulang. Aku begitu geram. Aku belum sukses di sini. Begitupun kisah cintaku. Aku mulai dekat dengan Alisha. Apakah harus kuakhiri? Apa boleh buat. Aku tak mau membuat keluargaku semakin cemas. Kuputuskan, aku akan berhenti mendatangi Alisha. Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku memandangi langit-langit seafarers center. Aku terkesiap, aku menuju meja resepsionis, aku menulis.

6 Juni 2009.
Alisha Café
04.00
Belum buka. Tentu saja. Kuselipkan sebuah amplop. Sebuah CD, dan secarik surat. Penuh kata maaf. Dan betapa aku memendam rasa. CD hanya berisi satu lagu. Dengan tulisan tanganku yang menggunakan spidol. "Made my day". Itu judul lagu yang menyatakan perasaanku padanya. Sekejap, semua kenangan di sana berkelebat. Senyumnya, tepuk tangan tulus dari para pendengarku, dan kopi hangatnya. Aku tersenyum, dan berangkat ke bandara.

13 Juni 2009.
Rumahku.
16.00
"Pos!!" Teriak pak pos dari luar. Sebuah surat, amplop merah hati. "Dear Dean", begitu tulisan di amplopnya. Kertasnya begitu lapang. Hanya terisi beberapa kata. "I love you, too. You also made my day". Aku tersenyum, terlebih setelah melihat tulisan di bagian bawahnya. "P.s. : Tanggal 16 ini, aku pulang ke Jakarta, jemput aku jam 4 di bandara ya. Alicia Asmadibrata :p"
Well, you just made my day :)


Made My Day sebuah karya cerita pendek dari Dwika Putra