Sunday, 16 January 2011

Made My Day

Jakarta. 9 Februari. 2009.
Bandara Soekarno Hatta.
Jam 12 siang.

Aku tak pernah suka suasana bandara. Terlalu banyak perpisahan yang terjadi di sini. Terlalu banyak drama. Derai air mata, kepalsuan tawa, senyum yang dipaksakan. Semuanya. Aku? Sendiri, tentu saja. Kebosananku tinggal di negeri ini, membawaku pada keputusan menjual piano peninggalan keluargaku. Keluargaku memang keluarga musisi. Musisi miskin, tepatnya.

Hasil penjualan piano, kubelikan selembar tiket satu arah ke Australia. Melbourne. Kota yang kupilih. Entah mengapa, hanya terdengar indah di telinga. Musikku tidak bergaung cukup keras di negara ini. Makanya aku mencoba peruntunganku. Kudengar, Melbourne kota yang cukup bersahabat. Di pesawat, hanya satu playlist yang kudengar berulang-ulang dengan iPod tuaku, empat lagu dari Chrisye, sang maestro yang juga idolaku sedari kecil.

Melbourne, 9 Februari 2009
Avalon International Airport
11.30 waktu setempat

Angin sialan. 40 menit berputar2 karena tidak kondusifnya angin. Ah sudahlah. Ada masalah yang lebih besar. Aku tidur di mana? Bawaanku hanya dua. Satu tas gitar, berisi gitar pertamaku, dan satu tas jinjing, hanya berisi empat helai baju dan dua celana panjang.oh, dan charger ipod ku. Aku menengok pengukur suhu yang ada di dinding salah satu kafe. Sembilan derajat. Sial. Pantas aku menggigil. Trench coat ini jelas kurang untuk menahan dingin.

12.10
Aku mulai panik. Berbeda dengan Jakarta, jalan-jalan sudah mulai sepi. Bingung mencari tempat tidur, ditambah hidung yang tak berhenti meradang, sempat membuatku putus asa. Akhirnya aku memutuskan tidur di jalan. Aku mencari emperan yang beratap, jaga-jaga bila saja malam hujan. "Alisha Café". Persetan dengan namanya. Kanopinya cukup luas. Cukup bagiku. Aku terlelap setelah menumpuk semua bajuku agar hangat. Belum ada sepuluh menit, aku terbangun dengan tepukan di bahuku. Sialan, batinku. Kukenakan kembali kacamataku. Seorang wanita.

Cantik. Itu saja yang terpikir. Kecantikan kaukasian yang sempurna. Mata coklat. Kulit putih, tetapi tidak berlebihan seperti orang eropa. Rambut sebahu diikat kuncir kuda. "Are you okay?" Katanya. "Helloo??" Katanya lagi sambil mengibaskan tangan di depan mataku, karena aku terpaku tak menjawab. "No...." Jawabku. "Eh? What's wrong?" Dia terlihat panik. "I think I'm dead, otherwise I can't meet an angel like you", jawabku, dengan niat menggoda, tentu saja. Dia tertawa kecil, luar biasa manisnya. Dengan tetap tersenyum, dia mengulurkan tangan, "Alisha". Kujabat tangannya, lembut sekali, "Dean".

Mungkin berlandas rasa iba padaku, diajaknya aku ke dalam kafe yang ternyata miliknya. Disuguhkan secangkir kopi. Hangat. Rasanya seperti surga. "I'm sorry, sir, but would you mind leaving after that coffee? I have to go home", ucapnya, dengan wajah memohon maaf yang tetap memancarkan kesempurnaan. "Nevermind, do you know where I can stay for the night?" Kataku dengan wajah datar. Aku tak mau terlihat mengiba. "Yeah, go to that corner, there's seafarers center, intersection of Spencer and Little Lonesdale, you can stay there for free, they accept homeless men", katanya sambil menunjuk ke salah satu arah.

Aku meneguk kopiku, mengangkat bawaanku, dan melangkah ke pintu keluar. Tepat di pintu, aku berbalik, "can I return here tomorrow?" Dia mengangkat alisnya. "At least to pay my cup of coffee", sambungku, "please?" sambil menirukan gaya memohon. Dia tertawa, "sure". Aku yakin aku akan mimpi indah malam ini.

Keesokannya, kutukarkan uang rupiahku dengan dolar Australia. Empat ratus sebelas dolar. Tidak mungkin aku bisa mendapat tempat tinggal yang layak dengan uang ini. Ah sudahlah, sekarang, bayar hutang dulu. Aku melangkah dengan santai, menuju toko barang bekas. Kujual tas jinjingku, sepuluh dolar. Toh tak ada gunanya. Aku selalu mengenakan tiga helai baju dan satu celana. Satu baju dan celanaku, bisa kuletakkan di tas gitarku. Cukup. Aku melangkah ke kafe Alisha. "A cup of coffee", kataku padanya, "and here's for yesterday as well". Aku memilih tempat duduk dekat jendela. Dia mengantarkan kopi itu kepadaku, satu-satunya tamu, dan duduk di depanku.

"Want to work?" Tanyanya. Aku tercengang, "of course". "Haha, I hope you're good with your guitar. Would you mind busking (mengamen) outside my cafe? So people will hopefully come, I'll let you stay here in return. But I have to hear you sing first", celotehnya santai. "Sure!" Untunglah, jalan selalu ada. Aku mulai menyanyi untuknya. Sebuah tembang "Falling slowly" kunyanyikan, dan diakhiri dengan tepuk tangan. "You passed!" Katanya, dan aku mulai mengamen di sana.

4 Juni 2009.
Alisha Café
10.00.
Hari ini, dua hari sebelum visaku berakhir. Aku tidak bisa memperpanjangnya. Uangku hanya cukup untuk tiket pulang. Aku begitu geram. Aku belum sukses di sini. Begitupun kisah cintaku. Aku mulai dekat dengan Alisha. Apakah harus kuakhiri? Apa boleh buat. Aku tak mau membuat keluargaku semakin cemas. Kuputuskan, aku akan berhenti mendatangi Alisha. Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku memandangi langit-langit seafarers center. Aku terkesiap, aku menuju meja resepsionis, aku menulis.

6 Juni 2009.
Alisha Café
04.00
Belum buka. Tentu saja. Kuselipkan sebuah amplop. Sebuah CD, dan secarik surat. Penuh kata maaf. Dan betapa aku memendam rasa. CD hanya berisi satu lagu. Dengan tulisan tanganku yang menggunakan spidol. "Made my day". Itu judul lagu yang menyatakan perasaanku padanya. Sekejap, semua kenangan di sana berkelebat. Senyumnya, tepuk tangan tulus dari para pendengarku, dan kopi hangatnya. Aku tersenyum, dan berangkat ke bandara.

13 Juni 2009.
Rumahku.
16.00
"Pos!!" Teriak pak pos dari luar. Sebuah surat, amplop merah hati. "Dear Dean", begitu tulisan di amplopnya. Kertasnya begitu lapang. Hanya terisi beberapa kata. "I love you, too. You also made my day". Aku tersenyum, terlebih setelah melihat tulisan di bagian bawahnya. "P.s. : Tanggal 16 ini, aku pulang ke Jakarta, jemput aku jam 4 di bandara ya. Alicia Asmadibrata :p"
Well, you just made my day :)


Made My Day sebuah karya cerita pendek dari Dwika Putra

0 komentar:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.