Untold Goodbye
Frank terbaring lemah di sebuah kamar VIP di rumah sakit dengan embel-embel "International" di depan namanya, pertanda reputasi yang diamini dunia luas. Seorang asisten perempuan, berjaga di sebelahnya sambil merajut. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat, hanya wanita berusia enam puluhan itu yang setia menemani Frank.
Tiga bulan yang lalu, semuanya bermula. Stella, wanita yang paling dicintainya, meninggalkannya. Wajar, Frank lupa tanggal peringatan setahun mereka resmi berpacaran. Bukan hanya itu, ketika Stella memasuki apartemen penthouse yang ditinggali Frank, yang ditemukannya adalah Frank sedang berdansa dengan Vee, mantan kekasihnya.
Lagu "Can't help falling in love" mengalun sendu, bersamaan dengan memuncaknya amarah Stella. Tanpa mengucap sepatah kata, cincin pertunangan mereka meluncur lepas dari jari manis tangan kanannya, dilempar ke karpet, hampir bersamaan dengan air mata yang menetes perlahan melalui pipinya.
Stella berbalik pergi dengan setengah berlari, Frank mengejar. Tepat di depan pintu, sebuah tamparan melayang, tepat ke pipi kirinya. Pintu dibanting. Frank hancur. Lebih sakit dari perih dan panasnya tamparan, kelebat ingatan gambar wajah Stella yang menangis jauh lebih menghancurkan hatinya.
"Aku tidak akan melukaimu". Kata-kata itu diucapkan ketika Stella mengangguk atas pertanyaan "would you marry me?" Enam bulan setelah mereka meresmikan hubungan. Kini kata-kata itu tidak lebih dari gumpalan kebohongan masa lalu bagi Stella.
Vee adalah instruktur dansa. Dan Frank hanya berlatih. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya ketika mengajak Stella berdansa keesokannya. Ya, mereka resmi jadian pukul 12 malam lebih tujuh menit, sesuatu yang tidak akan dilupakan Frank. Sayangnya, Stella berpikir berbeda. Dan Stella tidak pernah tahu. Dia tidak memberi Frank kesempatan untuk memberitahu.
Sejak hari itu, selama seminggu Frank berusaha menghubungi Stella. Selalu ditolak, selalu dihindari. Frank semakin larut. Dosis alkohol yang ditenggaknya semakin tidak terkontrol. Entah berapa kali ia ditemukan tertidur di tempat yang tidak sepantasnya.
Puncaknya tiga hari yang lalu. Dia ditemukan pingsan di kamar tidurnya. Dokter memvonisnya kanker hati. Alkohol memiliki harga yang mahal untuk dibayar. Sekarang tepat sudah tiga hari dia terbaring di rumah sakit. Koma. Hanya Mia, asistennya, yang menemani dengan sabar.
Tiba-tiba, setetes air mata meleleh dari pelupuk Frank. Jari-jarinya bergerak perlahan. "Stella..." Bisiknya lirih. Mia terhenyak. Digenggamnya tangan majikannya yang sudah dianggapnya anak sendiri. "Bu Mia..." "Sudah Frank... Jangan bicara dulu.." "Apa Stella datang?" Hening. "Tidak", jawab Mia tanpa maksud menyakiti, hanya menyatakan fakta.
Tidak lagi tampak gagahnya Frank, yang tersisa hanya kelemahan yang dibalut selimut yang terlihat begitu nyaman, dan diramaikan belasan selang yang nampak saling membelit. Terlebih, mendengar itu, tangisnya semakin pecah, seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah pusat perbelanjaan.
Dia memberi isyarat untuk mengambilkan telepon genggamnya. Mia menolak. Dia tahu, kondisi Frank tidak cukup kuat. Frank menatap tajam. Seolah berkata "Kata-kataku adalah perintah". Mia mengalah. Dia berbalik untuk mengambil telepon genggam majikannya. Ketika dia kembali menghadap Frank, tuannya itu telah mencabut selang di tangan kanannya, juga masker oksigen dari wajahnya.
Segera setelah berpindah tangan, kata "keluar" terdengar dari mulut Frank. Mia tahu, ini perintah, bukan permintaan. Bersamaan dengan pintu yang ditutup dengan hati-hati, nada sambung terdengar dari telepon. Tiga... Empat... Lima kali... Putus. Demikian terulang berkali-kali. Selama setengah jam. Setengah jam terpanjang dalam hidup Frank.
Sekali lagi dia menekan nomor orang yang sangat dicintainya itu. Kali ini, dengan perasaan ngeri. Dia tahu, ajal sudah membuka mulutnya lebar-lebar. Hampir berbarengan dengan dering kesembilan, sebuah nada lain mencipta simfoni pilu. Nada melengking panjang dari life detector Frank. Sebuah garis lurus nampak di sana, begitu tegas. Setegas garis takdir yang menyatakan bahwa ia terlambat. Kata-kata perpisahannya tidak akan pernah terucap.
Untold Goodbye
by. Dwika Putra
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.